Kendati relatif singkat menyaksikkan acara di tempat promosi seni dan budaya pada malam minggu yang juga disaksikkan bersama puluhan pengunjung masyarakat setempat dalam rangka pemilihan calon putra-putri duta wisata Kabupaten Paser atau lebih dikenal dengan istilah masyarakat setempat “kontes pemilihan Bujang Song dan Bujang Bawe” terdapat pemandangan langka yang belum pernah aku temukan sebelumnya, sebuah kesenian baru dari masyarakat Paser yaitu tarian Tuyo Dirong atau tarian pengobatan prosesi upacara belian.
Sebenarnya apa yang sering kita perhatikan saat sekarang bukanlah suatu hal yang asing dalam fenomena bangsa Indonesia, mengingat bangsa kita sangat kaya dengan beraneka ragam macam perbedaan. Setiap masyarakat tertentu dalam bangsa Indonesia memiliki perbedaan, baik dari etnis dan berbeda pula budayanya masing-masing. Dengan adanya perbedaan ini menyebabkan adanya kemajemukan budaya dalam bangsa yang patut diterima sebagai rahmat sang pencipta. Oleh karena itu dengan adanya kemajemukan tersebut perlu di syukuri, di pelihara dan dipertahankan sebagai kekayaan khas yang dimiliki bangsa ini.
Iseng-iseng untuk melakukan servis sepeda motor dengan kekuatan 200 cc di daeler terdekat untuk persiapan kembali perjalanan jauh menuju ke kota tepian Samarinda pada keesokan harinya untuk mengikuti tes mahasiswa baru bagi kerabatku, sambil menunggu antrian silih berganti ada sesuatu pemandangan yang unik aku temukan saat itu. Nampak sepeda motor baru knalpotnya rapuh dan terkesan habis kecelakaan. Dengan penuh penasaran aku pun menanyakan pada orang disekitarku yang tengah bersantai, ternyata benar dugaanku. Dari penuturan informasi yang aku dapatkan sepeda motor tersebut ditabrak dari belakang, sementara yang menabraknya dari belakang adalah pemuda yang dipengaruhi minuman keras karena tidak bisa mengontrol kecepatan dan tragisnya lagi saat kejadian dipinggangnya terselip senjata tajam.
Hidup terkadang di atas, terkadang di bawah berputar bagai roda kehidupan. Merenungku seorang diri di tengah gemerlapnya kemajuan zaman dan persaingan yang kurasakan semakin ketat untuk memahami arti kehidupan ini. Terkadang hati bertanya-tanya sampai kapan kesabaran dalam proses kehidupan ini akan berbuah manis di tengah penantian yang masih terombang-ambing bak kapal di tengah lautan. Berpuluh-puluh pesan bijak menasehati dalam menggapai harapan tidaklah sekali terucap bimsalabim lantas jadi, tapi semuanya butuh proses dan memerlukan kesabaran. Lanjutkan membaca ‘Pasrah’
Malam semakin larut entah kenapa suasana malam perkemahan tiba-tiba berubah menjadi mencekam. Mungkinkah malam ini bertepatan malam Jum’at atau memang seperti ini resiko kondisi di tengah hutan jauh dari keramaian. Berbeda pada malam sebelumnya. Usia mengadakan acara api unggun sebagai acara terakhir karena keesokan pagi kami harus meninggalkan lokasi tersebut. Semua bergegas kembali ke tenda masing-masing untuk istirahat. Sungguh melelahkan aktivitas yang penuh kegiatan untuk mengawasi peserta pramuka merambah semak belukar bergulat dengan teriknya panas matahari hingga azan magrib.
Usai mengoreksi lembar jawaban hasil ulangan dan menyerahkannya pada wali kelas maka tugasku selesai. Kendati demikian, terdapat sesuatu yang patut disayangkan terdapat siswa ketika dalam bertatap muka jumlah kehadirannya dapatlah dikatakan baik, tapi manakala ketika ulangan berlangsung tidak ada satu pun kelihatan batang hidungnya. Entahlah kemana perginya ataukah enggan untuk bersekolah sampai aku bosan menunggu kabarnya. Bosan! Seluruh kegiatan hidup dilakukan sepanjang usia Lanjutkan membaca ‘Perkemahan Pramuka’
Melelahkan sekaligus hiburan dengan menggunakan sepeda motor untuk mengunjungi kota tepian Samarinda. Hal yang patut disayangkan setelah sekian lama tidak pernah melakukan perjalanan jauh, pajak STNK ku mati karena tidak pernah memperhatikannya. Meskipun demikian dengan kondisi itu tidak mengurungkan niatku untuk mengunjungi kota tersebut dengan meminjam sepeda motor milik keluarga. Tak mengherankan dalam perjalanan tersebut bagiku agak canggung mengendarai kendaraan pinjaman.
Keindahan tidak membuka sekaligus. Hanya bagi hati yang penyabar rahasia dibagikan sedikit demi sedikit. Sehari demi sehari. Kelopak demi kelopak terkuak sempurna. Sebagai bunga mekar di ujung kata. Memijar biar hanyalah sesaat. Terus begitu sarat dalam beribu ayat.
Sehat! satu kata ini sangat berarti bagi manusia. Betapa nikmat Tuhan yang memberikan kepada manusia ketika sehat. Kalau saja sehat bisa ditukar uang (ketika sakit) mungkin akan memilih menyerahkan uang berapa pun besarnya. Bisa dibayangkan tulang ikan yang sangkut ditenggorokan dan Lanjutkan membaca ‘Sesaat’
Udara dingin menggigilkan tulangku.
Kutarik selimut menutupi seluruh tubuhku hingga kepala.
Detak jarum jam seirama dentuman jantungku.
Resah itu kembali menyerangku, membingungkanku.
Mataku terus terbentang menatap dinding dan langit-langit kamarku.
Mencoba mencari jawab di sana. Tidak ada
Hanya sebuah suara lirih tanpa wujud mengusikku.
Mengantarku terus mencari damaiku yang hilang.
Tapi sulit kutemui. Aku mengais kian-kemari
Ibarat mencari jarum ditumpukkan jemari.
Lanjutkan membaca ‘Senyap’
Pernah kita merasa tidak nyaman dengan keberhasilan orang lain? Senang bila bisnis teman merosot? Lega atas musibah yang menimpa tetangga? Atau tak rela bila pujian bukan untuk kita? Berkaitan dengan itu akan memunculkan bencana yang lebih besar. Penyakit iri dan dengki dapat menimpa siapa saja. Tak peduli status sosial, umur, dan jenis kelamin. Bahkan dengki pun bisa menjangkiti seorang pemimpi. Manakala mereka terlena dengan dunia dan terbius hawa napsunya. Iri dan dengki bisa muncul di kancah politik, di pasar, di kantor, atau di sekolah. Termasuk dalam pergaulan sehari-hari.
Komentar Terakhir